Rabu, 09 Maret 2016

Cerpen Menjadi Pahlawan Pejuang Kebenaran, Impianku

MENJADI PAHLAWAN PEJUANG KEBENARAN, IMPIANKU

            Hiduplah keluarga kecil di sebuah pedesaan yang sangat amat jauh dari perkotaan, keluarga ini memiliki keterbatasan dalam ruang lingkup kehidupan, mereka hidup di tengah keterpurukan dan memiliki anak laki-laki sematang wayangnya. Anak laki-lakinya ini sangat hiperaktif dan sayang dengan orangtuanya. Suatu hari datanglah sepasang suami istri yang baru saja menikah 1 tahun yang lalu, yang belum dikaruniai bayi, ia langsung menghampirinya. Ia bertanya, ini anak anda ya bu?. Ibu itu pun terdiam dan menatap ke anak laki-lakinya. Ia ini anak saya satu-satunya mbak!, jawab ibu itu sambil mengelus kepala anaknya.
            Pasangan suami istri itu senang dan bahagia banget melihat anak  laki-laki ibu itu, hingga mereka berdiskusi dan membicarakan sesuatu. Pembicaraan mereka sama sekali tidak diketahui. Tiba-tiba terlotar pertanyaan istri dari pasangan muda tadi. Ibu boleh tidak saya merawat dan membesarkan anak ibu, saya akan membawanya ke Jakarta, bagaimana bu?. Ibu it uterus menatap tajam pasangan suami istri itu, dengan penuh kesal dan amarah, ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari anak muda tadi.
            Pasangan suami isri ini mendakati anaknya dan bertanya, siapa nama mu nak?, anak itupun menjawab. “Maulana Ashabul Ambia”, pasangan itupun menjawab, wow nama yang bagus, siapa yang telah memberikan mu nama yang sangat indah ini ?. ibu dan ayah ku. Ia menjawab memperkenalkan dirinya
            Sebut saja dia Maulana, anak kelas B3 yang sangan lemah pada sentral bangunan, yang mempelajari tentang sejarah pembangunan diindonesia seperti candi. Maulana sangat tertarik dengan yang namanya sejarah, tetapi karena ia hanya orang miskin ia tak mampu untuk pergi ke candi. Ketika ada pembelajaran pada sentral bangunan ia hanya bisa melihat melalui buku temannya dan mengimajinasinya melalui balok-balok yang tersedia.
            Keesokannya, ibu guru memberitahu bahwa besok akan ada kunjungan kesebuah pembangunan sejarah Indonesia. Candi Borobudur. Maulana merasa gembira karena selama 5 tahun ia tingggal dan besar dijogja ia tak pernah menginjakan kakinya ditempat itu.
            Tibalah saat yang sangat menggembirakan untuk maulana yang pertama kali kecandi. Semua anak bersiap-siap untuk masuk kedalam bus sekolah. Diperjalanan mereka bernyayi dengan riang gembira secara serempak.
            Tibapun ditempat bangunan bersejarah itu, Maulana senang bisa melihat langsung bangunan sejarah itu. Bu guru berkata sambil mengawasi anak-anak, ″ anak-anak, gambar dan ceritakan apa yang kalian lihat ya ″. Anak-anakpun menjawab,dan suara yang sangat lantang terdengar dari suara Maulana yang cadal. ″ iya bu gulu ″.
Semua anak berkeliling dengan diawasi oleh bu guru. Mereka berkeliling dan menggambar yang ada disekelilingnya.
            Beberpa menit kemudian Ibu guru menyuruh semua anak untuk berkumpul dan istrahat. Sambil ia mengumpulkan hasil gambar anak-anak. Anak-anak masih pada tempat duduknya dengan berbentuk lingkaran, bu guru memeriksa gambar anak-anak satu-persatu.
 Disebutnya nama Maulana, ibu guru memberikan bintang pengahargaan kepadanya, yang awalnya ia tak pernah mendapatkan bintang pada central bangunan. Bu guru bangga padanya. Maulana berdiri dan berkata ″aku adalah pahlawan yang cinta sejarah″. Semua orang tertawa dengan perkataannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar