MENJADI
PAHLAWAN PEJUANG KEBENARAN, IMPIANKU
Hiduplah keluarga kecil di sebuah pedesaan yang sangat
amat jauh dari perkotaan, keluarga ini memiliki keterbatasan dalam ruang
lingkup kehidupan, mereka hidup di tengah keterpurukan dan memiliki anak laki-laki
sematang wayangnya. Anak laki-lakinya ini sangat hiperaktif dan sayang dengan
orangtuanya. Suatu hari datanglah sepasang suami istri yang baru saja menikah 1
tahun yang lalu, yang belum dikaruniai bayi, ia langsung menghampirinya. Ia
bertanya, ini anak anda ya bu?. Ibu itu pun terdiam dan menatap ke anak
laki-lakinya. Ia ini anak saya satu-satunya mbak!, jawab ibu itu sambil
mengelus kepala anaknya.
Pasangan suami istri itu senang dan bahagia banget
melihat anak laki-laki ibu itu, hingga
mereka berdiskusi dan membicarakan sesuatu. Pembicaraan mereka sama sekali
tidak diketahui. Tiba-tiba terlotar pertanyaan istri dari pasangan muda tadi.
Ibu boleh tidak saya merawat dan membesarkan anak ibu, saya akan membawanya ke
Jakarta, bagaimana bu?. Ibu it uterus menatap tajam pasangan suami istri itu,
dengan penuh kesal dan amarah, ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari
anak muda tadi.
Pasangan suami isri ini mendakati anaknya dan bertanya, siapa
nama mu nak?, anak itupun menjawab. “Maulana Ashabul Ambia”, pasangan itupun
menjawab, wow nama yang bagus, siapa yang telah memberikan mu nama yang sangat
indah ini ?. ibu dan ayah ku. Ia menjawab memperkenalkan dirinya
Sebut saja dia Maulana, anak kelas B3 yang sangan lemah
pada sentral bangunan, yang mempelajari tentang sejarah pembangunan diindonesia
seperti candi. Maulana sangat tertarik dengan yang namanya sejarah, tetapi
karena ia hanya orang miskin ia tak mampu untuk pergi ke candi. Ketika ada
pembelajaran pada sentral bangunan ia hanya bisa melihat melalui buku temannya
dan mengimajinasinya melalui balok-balok yang tersedia.
Keesokannya, ibu guru memberitahu bahwa besok akan ada
kunjungan kesebuah pembangunan sejarah Indonesia. Candi Borobudur. Maulana
merasa gembira karena selama 5 tahun ia tingggal dan besar dijogja ia tak
pernah menginjakan kakinya ditempat itu.
Tibalah saat yang sangat menggembirakan untuk maulana
yang pertama kali kecandi. Semua anak bersiap-siap untuk masuk kedalam bus
sekolah. Diperjalanan mereka bernyayi dengan riang gembira secara serempak.
Tibapun ditempat bangunan bersejarah itu, Maulana senang bisa
melihat langsung bangunan sejarah itu. Bu guru berkata sambil mengawasi
anak-anak, ″ anak-anak, gambar dan ceritakan apa yang kalian lihat ya ″.
Anak-anakpun menjawab,dan suara yang sangat lantang terdengar dari suara
Maulana yang cadal. ″ iya bu gulu ″.
Semua
anak berkeliling dengan diawasi oleh bu guru. Mereka berkeliling dan menggambar
yang ada disekelilingnya.
Beberpa menit kemudian Ibu guru menyuruh semua anak untuk
berkumpul dan istrahat. Sambil ia mengumpulkan hasil gambar anak-anak. Anak-anak
masih pada tempat duduknya dengan berbentuk lingkaran, bu guru memeriksa gambar
anak-anak satu-persatu.
Disebutnya nama Maulana, ibu guru memberikan
bintang pengahargaan kepadanya, yang awalnya ia tak pernah mendapatkan bintang pada
central bangunan. Bu guru bangga padanya. Maulana berdiri dan berkata ″aku
adalah pahlawan yang cinta sejarah″. Semua orang tertawa dengan perkataannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar