Selasa, 06 Juni 2017

MUKJIZAT MUSIK UNTUK IBU DAN ANAK

RESUME  BUKU MUKJIZAT MUSIK (TERAPI JITU KECERDASAN ANAK MELALUI MUSIK)



A.    Memahami Potensi Permata Hati
1.      Kecerdasan: Takdir atau Potensi ?
Sepanjang anda membaca beragam buku ataupun menerima berbagai informasi tentang perrkembangan anak, anda barangkali pernah menemukan pernyataan: “Bahwa anak yang selalu bertanya atau anak yang rasa ingin tahunya besar adalah anak yang cerdas.” Lantas benarkah pernyataan itu? Apakah memang demikian kenyataannya?

2.      Memahami Potensi Kecerdasan Anak
Dr. Howard Gardner, peneliti dari Harvard, pencetus teori Multiple Intelligensi mengajukan 8 jenis kecerdasan yang meliputi:
a.       Cerdas Bahasa, yakni cerdas dalam mengelola kata.
b.      Cerdas Gambar, yakni memiliki imajinasi tinggi.
c.       Cerdas Musik, yakni peka terhadap suara dan irama.
d.      Cerdas Tubuh, yakni terampil dalam mengelola tubuh dan gerak.
e.       Cerdas Matematika dan Logika, yakni cerdas dalam sains dan berhitung.
f.       Cerdas Sosial, yakni kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain.
g.      Cerdas Diri, yakni menyadari kekuatan dan kelemahan diri.
h.      Cerdas Alam, yakni peka terhadap alam sekitar.
i.        Cerdas Spiritual, yakni menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta.
Membangun seluruh kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah tenda yang mempunyai beberapa tongkat sebagai penyangganya. Semakin sama tinggi tongkat-tongkat penyangganya, semakin kokoh pulalah tenda itu berdiri.
Peneliti menunjukkan bahwa factor genetic saja tidak cukup bagi seseorang untuk mengembangkan kecerdasannya secara maksimal. Justru peran orang tua dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung jauh lebih penting dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak.

3.      Kecerdasan Sejak dari Kandungan
Dalam memandang kondisi anak, kita, orang tua sesungguhnya kerap berlaku naïf. Ketika kita menemukan anak kita bodoh, nakal, pemberang, atau bermasalah, kita kerap menyalahkan guru, pergaulan di sekolah, dan lingkungan yang tidak beres. Padahal tiga factor itu hanya berperan dalam proses perkembangan anak. Sedangkan bakat anak itu menjadi bodoh, nakal, atau pemberang justru terletak dari bagaimana sentuhan kita, para orang tua di lima tahun pertama di kehidupan sang anak, termasuk sejak ia masih ada di kandungan.
Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya boleh dikatakan sangat jarag ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Malah, kehamilan kerap dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak-anak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.

4.      Hal-hal lain yang Mencerdaskan
Selain itu kecerdasan seorang anak juga ditentukan oleh factor-faktor asupan. Terkait dengan apa yang dimakan serta diminum, dimana asupan-asupan makan dan minuman diberikan pada anak seharusnya memiliki kadar yang sungguh-sungguh membuat pertumbuhan anak berjalan maksimal. Hal lain yang penting diperhtikan adalah bagaimana oxygen (oksigen) yang terkonsumsi oleh buah kita. Oksigen merupakan unsure utama yang diperlukan oleh otak, yang mejadi ‘bahan bakar’ supaya ‘mesin’ otak berjalan dengan performa yang sangat tinggi. Begitu ‘bahan bakar’ oksigen ini tidak bisa disuplai dengan baik, ‘mesin’ otak akan mengalami kerusakan fatal.
5.      Intelegensi dan IQ Anak
a.       Intelegensi dan IQ
b.      Pengukuran Intelegensi
c.       Intelegensi dan Kreativitas
d.      Agar Anak Kreatif
e.       Biarkan Kreatif Mereka Berkembang

B.     Memahami Seluk Beluk Kecerdasan Emosional
1.      Pentingnya Kecerdasan Emosional
Setiap anak sesungguhnya tidak hanya terlahir sebagai Einsteins, namun juga sebagai Shakespeare, Davinci, Isac Newton, Isa, Ghazali, Ibn ‘Arabi, bahkan Muhammad Saw. Hanya saja kita kurang, atau bahkan kerap tidak mampu melihat potensi kecerdasan mereka. Walhasil, banyak anak harus kehilangan potensi kecerdasan di waktu ketika potensi kecerdasan yang dimilikinya tengah siap untuk berkembang.
Tanpa kecerdasan emosi, psikis seorang cenderung rentan dengan berbagai konflik, mudah depresi serta banyak mengalami hambatan dalam bergaul dan bekerjasama dengan orang lain. Sebagai pribadi, ia tumbuh menjadi individu yang cenderung tertutup, reaktif dan mudah putuh asa. Karenanya, benar adanya, apa yang di ungkap Daniel Goleman bahwa tanpa adanya emosi, kehidupan manusia hanyalah lorong panjang yang menjenuhkan, hampa dan tidak bermakna.
Namun demikian sebaliknya, tingginya tingkat penggunaan emosi, yang tidak terkontrol dengan baik, meledak-ledak, akan juga berdampak buruk, baik bagi psikis maupun fisik. Dalam sisi ini cerdas emosi, pada akhirnya menjadi suatu hal yang tak terelakkan, yang begitu dibutuhkan dalam hidup, vital, serta senantiasa harus diperhatikan, dijaga dan dilatih setiap waktu. Terkait dengan hal itu kecerdasan emosi seharusnya dilatih, serta dikembangkan sejak usia dini, atau tepatnya di usia anak-anak.


2.      Kecerdasan ala Barat dan Timur
Kenyataannya salah satu ditandai dengan disadari kecerdasan emosional oleh berbagai tokoh Islam sebagai suatu yang sejak lama juga diajarkan Islam. Asumsi umumnya dirujukkan kepada kepribadian Nabi Muhammad Saw. sebagai sosok pribadi yang cerdas dan gemilang secara emosional, sehingga nabi kerap diungkap sebagai seorang manusia yang memiliki sifat cerdas (fathanah).
Dalam skala ini kecerdasan emosional kemudian dipandang sebagai kecerdasan yang penting, yang akan membuat seseorang mampu menjadi pribadiyang sungguh-sungguh berakhlak sebagaimana Nabi Muhammad Saw.

3.      Rahasia Kecerdasan Emosional
Sejauh semantic kebahasaan peneliti emosi konon emosi berasal dari akar kata “movere” berasal dari istilah latin yang berarti “menggerakkan” atau “bergerak”. Lorens Bagus dalam Kamus Filsafat mendefinisikan emosi tidak lain adalahperasaan atau feeling, suasana mental yang tidak dapat direduksi, dianalisis, suatu kualitas kesadaran, partikular, subyektif. Emosi berhubungan dengan tingkah laku, memengaruhi usaha berpikir, memahami, berkonsentrasi, memilih dan bertindak. Missal rasa senang atau tertekan dapat berpengaruh bagi tingkat kemampuan belajar seseorang dalam memahami sesuatu.
Emotional Quotient merujuk pada penemuan-penemuan Joseph Le Doux dalam karya “Emotion: Memori and The Brain” adalah kecerdasan yang muncul dari fungsi organ amigdala pada batang rongga otak. Le Doux mengamati bahwa gejala-gejala emosi yang sebelumnya dianggap berlangsung sebagai akibat dari aktivitas-aktivitas fungsional otak besar, neokorteks dan system limbic, ternyata sebagian besar terbentuk pula sebagai akibat dari organ amigdala yang terletak di bagian dalam tengah otak kita.
Dalam eksperimennya Le Doux mengamati bahwa organ ini mengalami peningkatan aktivitas seiring dengan respon-respon emosinal manusia. Ketika saraf sensorik kita teraktivasi oleh respon inderawi dari luar (misalnya retina mata kita yang menerima cahaya, obyek visual dan mengaktifkan sel saraf optik), maka impuls saraf ini  akan diterima oleh thalamus sebuah bagian di dalam otak yang menerjemahkan stimuli impuls saraf menjadi bentuk-bentuk yang dipahami oleh otak untuk kemudian diterima oleh neokorteks dan korteks visual yang mengolahnya dan merangsang amigdala apabila stimuli bersifat emosional.

4.      Jenis-jenis Kecerdasan Emosional
Daniel Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosi bukan berarti memberikan kebebasan kepada perasaan untuk berkuasa melainkan mengelola perasaan sedemikian rupa, sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif. Adapun indikator dari kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman adalah sebagai berikut:
a.       Kesadaran Diri. Kesadaran diri adalah mengetahui apa yang dirasakan pada suatu kondisi tertentu, mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, serta memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
b.      Pengaturan Diri. Pengaturan diri yaitu: dapat menangani emosi dengan baik, sehingga berdampak positif dalam melaksanakan tugas, peka terhadap kata hati dan sehingga dapat mencapai tujuannya.
c.       Motivasi. Motivasi yaitu: merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu sehingga menuntun seseorang dalam menuju sasaran, dan membantu dalam mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
d.      Menumbuhkan hubungan saling percaya dan kecakapan sosial (empati).
e.       Kecakapan sosial yaitu: dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, mampu memahami perspektif mereka menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.
f.       Keterampilan Sosial. Keterampilan sosial adalah kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan menggunakan keterampilan untuk memengaruhi dan memimpin, serta menyelesaikan  permasalahan dengan cermat.
Menurut Maurice J. Elias, cara-cara efektif  mengasuh anak dengan EQ, yaitu dengan:
a.       Memahami dan menghargai perasaan anak dalam kehidupan sehari-hari, dengan melakukan komunikasi yang baik dengan sesame anggota keluarga.
b.      Menanamkan disiplin dan tanggungjawab pada setiap tindakan yang dilakukan oleh anak, saling peduli dengan anggota keluarga, serta menanamkan rasa kasih sayang sesama anggota keluarga.

5.      Musik: Media Efektif yang Terabaikan
Menurut John Flohr, professor music yang selain mengajar di Texas Woman’s University juga menjadi relawan di Dunia Anak di Coppell, music mampu merangsang aliran saraf di dalam otak dan meningkatkan kemampuan memori dan spasial. Hal senada juga diungkapkan oleh David  Moore, professor psikologi di Pitzer College di Claremont, California.
Pentingnya stimulus musik ini juga tampak dari saran F. Rene Van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D. dalam bukunya While You’re Expecting, Your Own Prenatal Classroom (1997), yang terkenal dengan ajakannya untuk mendidik anak sejak dalam kandungan. Mereka menyarankan agar setiap sesi ‘pembelajaran’ diakhiri dengan musi, nyanyian atau senandung. Menurut mereka, penggunaan musik ketika bayi sedang menenangkan diri akan membantunya berlatih mengasosiasikan  musik dengan relaksasi.
Stumulasi prenatal pada bayi dengan menggunakan musik juga dapat memengaruhi bakat musiknya. Hasil penelitian Dr. Donald  Shelter, professor di Eastman School of Music University of Rochestar, New York yang juga musisi jazz tentang pengaruh seleksi music simfoni pada bayi sebelum lahir membuktikan hal tersebut.
Keuntungan mendengarkan musik terus berlanjut hingga si bayi telah menjadi anak-anak yang bisa mendengar dalam arti yang sesungguhnya. Pada saat tersebut mendengarkan musik atau menyanyi merupakan alat pembelajaran yang sangat murah, karena tidak memerlukan alat khusus. Selain menyanyi dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, melalui nyanyian anak bisa belajar aneka macam.

C.     Musik dan Hidup Manusia
1.      Sejarah Musik di Berbagai Tradisi
Musik adalah produk budaya yang cukup tua, klasik, eksotis dan sarat dengan kepenuhan. Karenanya penenlusuran historisitas musik akan memaksa siapapun memasuki ruang eksotika peradaban tua, mulai dari peradaban sungai Nil, Babilonia, Yunani, India, sungai kuning dan lain sebagainya, yang sarat dengan berbagai pelibatan music sebagai tradisi yang penuh dengan penghayatan cita rasa. Di Mesir kurang lebih sekitar tahun 5000 M, musik bahkan telah menjadi sesuatu yang istimewa, disadari tidak hanya sebagai sesuatu yang hanya mampu menghibur perasaan, melainkan telah pula dihayati sebagai tradisi luhur, yang mengekspresikan unsure-unsur trasendental. Ini terlihat ketika musik ikut menjadi salah satu varian dalam berbagai upacara dan ritus keagamaan masyarakat sepanjang sungai Nil.
Musik adalah bunyi-bunyian yang beralun dengan harmoni tertentu, dan hanya dalam harmonilah musik biasa dinikmati, tanpa harmoni musik akan menjadi bunyi yang menyakitkan telinga dan menggelisahkan jiwa. Maka dari itu, di Mesir, musik diajarkan tidak hanya agar manusia tidak hanya mengharmoniskan satu irama dengan irama lainnya; antara satu notasi dengan notasi lainnya, melainkan juga mengharmoniskan diri sendiri, diri dengan sesama, diri dengan alam ataupun diri dengan dewa. Dalam situasi ini music menjadi media seseorang di dalam melakukan berbagai pendisiplinan diri, penguasaan hawa nafsu serta berbagai kecenderungan-kecenderungan berbuat jahat.
Dari teori ini Ikhwan kemudian berpandangan bahwa music duniawi selalu merupakan imitasi dari musik surgawi. Pandangan ini memiliki kemiripan dengan pengalaman tokoh Yunani, Phytagoras, yang dengan kesucian batinnya, mengaku pernah mendengarkan musik yang dihasilkan oleh rotasi langit dan bintang-bintang. Menurut Phytagoras, kesunyian batin akan membuat seseorang mampu mendengarkan irama harmoni alam;irama matahari, bulan dan bintang-bintang selalu hadir dan hilang, diiringi dengan irama harmonik.

2.      Perdebatan Tokoh Seputar Pengaruh Musik
Menurut pandangan Ibn Khurdabih (300 H/ 912 M) bahwa musik (ghina) bagi Ibn Khurdabih  adalah sesuatu yang mampu menggerakkan jiwa, memperhalus emosi dan mempertajam akal. Mula-mula musik memberikan makna bagi emosi atau perasaan manusia, sehingga perasaan manusia menjadi penuh dan berlimpah ruah. Kepenuhan tersebut kemudian turun menuju tempat lebih dalam yakni jiwa, sehingga ia mengalami vibrasi, bergetar berlimpah keindahan. Kemudian saat jiwa  bergetar dan emosi menjadi penuh penuh, akal tiba-tiba memiliki sepasang sayap yang lembut, tajam dan kuat seperti seekor elang ia pun terbang mengitari dimensi waktu yang paling abstrak dari ketinggian kesadaran.
3.      Sifat, Corak, dan keajaiban Musik
Musik adalah keajaiban yang bersifat subyektif. Ini terjadi karena cita rasa musik selalu menjadi rasa yang disadari dan dinikmati dengan perasaan (emosi). Hanya saja dalam subyektifitasnya, musik tidak disadari secara relative, melainkan selalu diterima diterima dalam pengalaman yang selalu sama. Yakni, sebagai keindahan yang dapat memberikan perasaan penuh dan nyaman. Dari situ, setiap musik selalu menjadi sesuatu yang universal. Sifat universalistic musik terindikasikan ketika ilustrasi-ilustrasi musik bebas dari grafik- matrik – dimensi spasial apapun.
Musik hadlrah merupakan music dari arab yang memiliki nilai yang sama universalnya dengan music Jawa, ataupun musik lainnya yang hidup di negeri manapun. Tak berbeda dengan setiap bangsa yang selalu memiliki kesadaran yang sama bahwa dalam music terdapat sesuatu yang indah, agung yang sulit mungkin dipenjara kata-kata. Dari situ berbedaanya harmoni satu musik dengan musik lainnya , tidak sedikitpun membuat music ini abash disadari dengan perasaan antisipasi. Karena sesungguhnya ia memiliki kualitas sifat dan potensi yang sama universalya dengan musik yang berkembang dalam dunia manapun.

D.    Musik Bagi Kecerdasan Emosional Anak
1.      Pengaruh Musik bagi Anak
Glenn Doman, penulis buku Teach Your Baby To Read, membuat penyataan spektakuler bahwasanya pada saat terlahir setiap anak sesungguhnya memiliki kecerdasan yang lebih besar dari pada yang pernag digunakan oleh Leonardo Da Vinci. Namun demikian karena tidak dikenali dan dikembangkan, rata-rata orang hanya memfungsikan 2% dari keseluruhan kecerdasan emosional yang dimiliki.
Kecerdasan emosional adalah satu kecerdasan terpenting yang jarang dikenali serta sedikit dikembangkan. Kenyataan tersebut melahirkan dampak mencengangkan, dimana konon setiap kisah tragis yang dialami stiap individu dalam setiap masyarakat, selalu diketahui berkait kelindan dengan ketidakmampuan individu masyarakat tersebut dalam menghadapi problem yang ada berkaitan dengan emosi. Khususnya, saat mereka dihadapkan pada situasi yang mengharuskan mereka membuat keputusan-kepusan penting dalam hidupnya.
Adapun fungsi music secara umum adalah sebagai berikut. pertama, tumbuhnya rasa indah melalui pengalaman yang dapat diperoleh perasaan dari menghayati musik. Pengalaman ini penting bagi emosi seorang anak membuat anak bisa merasakan secara positif tentang apa yang dirasakan dan yang di lihat. Kedua, tumbuhnya kepekaan, kejelian dan kecermatan. Hal ini tumbuh karena kelembutan musik memengaruhi emosi anak untuk merasakan dan memahami dengan seksama terhadap apa yang ada disekelilingnya.
Musik merupakan salah satu hal yang mmempunyai pengaruh pada kehidupan manusia, mulai dari bayu hingga seseorang menjadi dewasa. Hal ii telah diteliti oleh para ilmuwan. Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik sangat memengaruhi perkembangan IQ (Intelegence Quotient) dan EQ (Emotional Quatient).

2.      Lima Langkah Penting Melatih Emosi Anak
Berdasarkan penelitian, anak-anak yang telah dilatih emosinya oleh orang tua mereka memiliki kemampuan dalam bidang emosi mereka sendiri dibandingkan dengan anak-anak yang tidak di latih oleh orang tua mereka. Kemampuan-kemampuan ini mencakup kemampuan mengatur keadaan emosio nal mereka sendiri. Anak-anak itu lebih terampil dalam menenangkan diri mereka sendiri bila mereka marah. Mereka mampu menenangkan jantung mereka dengan lebih cepat.
Pelatihan emosi memberikan sebuah kerangka kerja yang didasarkan pada komunikasi perasaan. Apabila orang tua memberikan empati kepada anak-anak mereka dan menolong mereka untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif, seperti marah, sedih, dan takut. Hal ini berarti orang tua membangun jembatan kesetiaan dan kemesraan. Di dalam konteks ini, meskipun orang tua yang melatih emosi mematok batas-batas yang tegas, kenakalan bukan lagi merupakan keprihatinan yang utama. Sikap patuh, menurut, dan tanggung jawab muncul dari sebuah perasaan kasih sayang dan kedekatan yang dirasakan oleh anak-anak dalam keluarga mereka.
Adapaun cara melatih emosi dengan yang lain yaitu menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah. Pemecahan masalah harus melalui suatu proses yang terdiri ataas lima tahap, antara lain:
a.       Menentukan batas-batas
b.      Menentukan sasaran
c.       Memikirkan pemecahan yang mungkin
d.      Mengevaluasi pemecahan yang disarankan berdasarkan nilai-nilai keluarga
e.       Menolong anak memilih salah satu pemecahan.

3.      Cerdas Emosi dengan Musik
Dari sekian banyak karya musik klasik, sebenarnya gubahan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, musik-musik karyanya memberikan efek paling positif bagi perkembangan janin, bayi dan anak-anak. Penelitian itu diantarannya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai “efek Mozart”.
Dibanding gubahan musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah-daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhanaan musik Mozart itu sendiri. Komposisi yang disusunnya telah berhasil menghadirkan kembali keteraturan bunyi yang pernag dialami bayi selama dalam kandungan. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan.
a.       Efek Mozart
b.      Teknik dan saat tepat member terapi musik
c.       Efektif sampai usia 3 tahun
d.      Mengatur jadwal
e.       Pilihan lagu dan musik

f.       Cara melakukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar