KISAH ABDUL HAMID KAHARUDDIN
Moment Idul Fitri , mengingatkan saya pada Sosok ini. Dia bernama Abdul Hamid, Lahir di Bima tahun 1942, saat usia 6 tahun yatim. Kondisi saat itu sangat sulit ditambah lagi kehilangan Ayah tidak membuatnya lemah. Seperti kisah di buku cerita anak dimana mencari kayu bakar dan memakan seadanya yang di temukan di hutan adalah kisah hidup nya, bukan kisah fiksi. Keinginan kuat nya untuk sekolah membuatnya merantau meski masih belia hingga seorang Pastur dari Belgia mengangkat nya menjadi anak asuh. Tinggal lah seorang Abdul Hamid kecil di kediaman pastur. Sekolah dan membantu pekerjaan pastur adalah kesehariannya. Dari seorang Pastur, beliau mengenal fotografi, cinema. Dan saat remaja beliau menjadi orang pribumi Bima pertama yang kenal dunia fotografi, hingga Nona Farida " panggilan orang bima " etnis Tionghoa pertama di Bima yang membuka foto studio "Farida" meminta Abdul Hamid remaja bekerja sebagai tukang foto keliling.
Di Tahun 65 an, saat peristiwa Gestapu dimana Etnis Tionghoa ditangkap dan di tahan, Abdul Hamid remaja memberanikan diri nya untuk mengantarkan makanan dan kebutuhan keluarga ini. Tidak mudah dan sangat beresiko karena saat itu kebencian pribumi terhadap etnis tionghoa akibat pengaruh issu komunis sangat kuat. Seorang Abdul hamid mengambil pilihan di kucilkan.
Sampai akhirnya Abdul Hamid remaja di ajak oleh sahabatnya untuk mengabdi di pemerintah di Agraria. Saat itu menjadi pegawai negeri bukanlah pilihan bijak. Karena gaji sangat kecil sementara lokasi pengukuran tanah di lalui dengan kuda. Dan karena ketekunanannya beliau mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah akademi Agraria di jogja. Kembali ke Bima dan mendapatkan beasiswa lagi Instutut Ilmu Pemerintah di jakarta. Dan saat itu tali toga nya di sentuh oleh Mendagri yang saat itu di jabat oleh Suparjo Rustam. Dan karya beliau di akhiri di DPRD Kabupaten bima.
Tiga tahun beliau berpulang, kisahnya selalu hidup di hati saya. Beliau besar bersama seorang pastur namun akidah nya tidak berubah. Apalah arti simbol simbol nasrani yang di hebohkan para sumbu pendek ini. Hingga awal tahun 90an. Abdul Hamid masih berkirim kartu pos ucapan natal, dan sebaliknya sang Pastur mengirimkan kartu lebaran. Saat Natal Abdul Hamid ini merayakan natal bersama keluarga cina kapir Nona Farida. Bahkan hingga Saat Beliau sakit dan pulang selamanya keluarga Nona Farida masih dekat seperti keluarga beliau sendiri.
Datu panggilan akrab yang saya panggil untuk beliau yang artinya "Kakek", beliau Berhaji, belajar pada ulama hingga ke jawa, madura, mewaqafkan tanah dan membangun mushalla adalah karya nyata, itulah seorang Abdul Hamid. Tiada malam yang dilalui nya hingga fajar selain membaca kitab dan berdzikir.
Saya bercerita untuk Indah nya Bulan Suci Ramadhan, untuk indah nya ke bhinekaan. Kita semua orang indonesia dengan busana agama masing masing.dan saya bisa bercerita karena saya salah satu cucu saksi hidup hingga beliau di pusaranya. Kisah ini dituangkan untuk para pewaris bahwa semua manusia diciptakan oleh Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar